Senin, 04 Maret 2019

Pendidikan Sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.” – Nelson Mandela.
Tiliklah sedikit petikan quote dari Nelson Mandela tersebut. Dapat kita artikan secara jelas, pendidikan adalah senjata atau hal yang sangat di nomor satukan untuk mengubah dunia. Mengubah dunia dalam hal apa? Tentu saja banyak. Anggaplah dunia kita ini sudah tidak jelas, kehancuran dimana-mana, peperangan tak terelakkan dan kedamaian sangat tidak diacuhkan.
Banyak orang beranggapan, pendidikan tinggi-tinggi itu tidak perlu. Apalagi untuk perempuan. Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh, nantinya bakal jadi istri orang juga. Toh, nantinya bakal di dapur juga. Hal-hal seperti ini kebanyakan dikatakan oleh orangtua-orangtua kita, yang masih percaya dengan zaman Siti Nurbaya. Siti Nurbaya saja, bisa dipinang oleh Datok Maringgih yang kaya raya, kata mereka.
Pemikiran-pemikiran close minded seperti itu hanya akan menurunkan kualitas negara kita. Apa salahnya seorang perempuan mengenyam pendidikan tinggi? Apa salahnya seorang perempuan mengejar gelar Doktor sampai harus meninggalkan kampung halamannya? Tidak ada yang salah! Ingatlah, seorang anak yang cerdas dari rahim ibu yang juga cerdas pula.
Banyak contoh yang dapat kita lihat dari perempuan-perempuan cerdas di Indonesia. Sebut saja Tasya Kamila dan Maudy Ayunda. Tasya Kamila mengenyam pendidikan di Columbia University, AS. Sedangkan Maudy Ayunda baru saja menyelesaikan pendidikan S2 nya di Oxford University, Inggris. Ini pembuktian dari mereka, bahwa perempuan pun dapat memiliki gelar setinggi langit.
Pandangan orang-orang ke perempuan di zaman dulu dan sekarang pun sepertinya mulai berubah. Tetapi memang tidak banyak orang yang menyetujui seorang perempuan menjadi “wanita karier” karena gila bekerja. Ini memang masih menjadi pro dan kontra di kalangan laki-laki dan perempuan. Banyak laki-laki berpikiran, hanya laki-laki yang pantas mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja.
Tetapi, akankah lebih baik jikalau laki-laki dan perempuan menikah, mereka sama-sama bekerja? Mengapa bekerja? Tentu saja karena pendidikan mereka sama-sama tinggi. Dampak positif dan negatif pun seharusnya sudah mereka ketahui. Apa dampaknya jika seorang perempuan menyamakan derajatnya dengan laki-laki, dengan mengenyam pendidikan yang sama?
Seperti yang kita tahu, kebanyakan wanita berpendidikan tinggi, juga ingin bekerja yang giat. Karena itu, anak mereka kemungkinan dititipkan dengan neneknya, atau baby sitter. Hal-hal seperti ini memang tak dapat terelakkan, tetapi jangan sampai menyurutkan semangat kita, seorang perempuan, untuk mengenyam pendidikan. Setinggi, sejauh, dan seluas apapun.

Peristiwa pembakaran bendera tauhid


           Video sekelompok orang berseragam ormas badan otonom NU itu merampas bendera bertuliskan lafal tauhid dan membakarnya.Perihal insiden pembakaran bendera yang bertuliskan lafadz tauhid, yang dilakukan oleh Banser yakni umat Islam itu sendiri, di Jawa Barat pada tanggal 22 Oktober 2018 hari senin, menimbulkan reaksi dari Umat Islam lainnya. Reaksi tersebut direspon oleh massa yang berjumlah sangat besar dan tindakan anarki di berbagai tempat. Di jakarta pada tanggak 26 Oktober 2018, banyaknya massa dari berbagai Kota memenuhi area gedung Menkopolhukam, yang melakukan aksi bela lafadz tauhid. Tidak hanya di Jakarta, di sidoarjo dan lain sebagainya.
             Nah, dengan adanya konflik mengenai agama dengan hal ini bisa saja dimanfaatkan karena politik sehingga mementingkn kekuasaan dan tidak terkendali dengan banyaknya massa. Secara tidak sadar kita Indonesia di uji kedewasaannya, sehingga kita tidak menghakimi atau dihakimi. Melainkan bagaiaman masalah ini diselesaikan agar perpecahan itu tidak ada, sehingga akan terciptanya persatuan kembali. Bung Karno dulu pernah mewasiati bahwa “Saya sadar bahwa saya akan tenggelam.
            Namun biar­kan saya rela tenggelam, agar rakyat Indonesia dengan de­mi­kian tetap bersatu, tidak ter­pe­cah belah.” Dari kalimat tersebut sudah terbukti bahwa apa yang diinginkan dari seorang pemimpin, Presiden pertama Indonesia yakni persatuan, seperti semboyan kita “Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua”. Dan dalam perintaah Al-Qur’an sangat jelas bahwa yakni segera untuk mengambil jalan dialog atau musyawarah untuk berdamai (Q.S. Hujarat: 10), dengan proses hukum yang harus ditegakkan.
          Kita harus telusuri dari bangunan beberapa peristiwa yang terjadi dalam skala nasional dan kaitannya dengan Banser, maupun organisasi sejenis.Yang paling dekat, insiden ini terkait dengan antusias Banser dalam mengganyang simbol-simbol yang terkait dengan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Apa saja yang ditengarai beraroma HTI, akan dibasmi.HTI juga menjadi stigma yang dipaksa untuk ditempelkan kepada pihak yang dinilai mengancam kepentingan kelompoknya. Sebut saja teror terhadap kajian Ustad Abdul Shomad (UAS) di Jawa Tengah dan Jawa Timur beberapa waktu lalu.
          Padahal, belum tentu pelaku teror itu paham seluk beluk HTI selain dari indoktrinasi dari sang pemimpin. Tak ada ruang diskusi ilmiah. Bukan karena diskusi semacam itu tidak diminati, tetapi adu argumen yang fair dalam perkara seperti ini memang bikin penguasa merasa gatal.Disengaja atau tidak, pola seperti itu berjalin kelindan membentuk sebuah industri yang memproduksi kebencian tiada henti. Terjadilah siklus hubungan dan ketergantungan satu dan lainnya. Kebencian menjadi bahan bakar yang mudah dan murah untuk menyulut adegan. Kebencian juga menjelma tiket serba guna untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan kelompok.

Tidak adil kalau hanya menghujat oknum anggota Banser pelaku pembakaran bendera. Pucuk pimpinannya, jika terbukti mengobarkan indoktrinasi dan kebencian kepada kelompok tertentu, harus mendapatkan sanksi.
          Pendapat saya bahwa untuk Pemerintah khususnya Kementrian Agama ataupun MUI (Majelis Ulama Indonesia) segera menindaklanjuti perihal bendera yang dibakar, sehingga perselisihan sesama Umat Agama Islam segera disudahi sehingga tidak ada pemanfaatan terkait persoalan ini. Kami ingin Indonesia satu, dan saya harap pihak Keagamaan memberikan pengertian kepada seluruh Umat Islam, agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.
         Maka dari itu, kita sebaiknya Umat Islam tetap menjaga satu kesatuan kita, dengan membicarakan dan dimusyawarahkan pada titik yang telah disepakati, entah menuju jalur hukum maupun tidak, segera diselesaikan, agar Indonesia aman dan sejahtera.

Kamis, 28 Februari 2019

artikel

Fobia     
          Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
          Efek buruk fobia, berbeda dengan ketakutan biasa, orang yang mengalami fobia akan mengalami berbagai gejala khusus yang ditunjukkan baik secara fisik maupun kejiwaan. Berikut uraiannya.
          Gejala fisik seseorang saat mengalami fobia:
Orang yang memiliki fobia tertentu biasanya akan mengalami serangan panik. Serangan panik ini biasanya ditunjukkan dengan berbagai gejala fisik seperti:
1. Mual
2.Gemetar
3.Berkeringat
4.Mulut kering
5.Merasa kebingungan
6.Sakit kepala dan pusing
7.Sesak atau sulit bernapas
8.Perasaan seperti tercekik
9.Mati rasa atau kesemutan
10.Detak jantung meningkat cepat
11.Muka memerah dan tubuh menjadi lebih dingin
12.Peningkatan tekanan darah
13.Gejala psikologis saat seseorang mengalami fobia
         Penanganan terhadap fobia dapat dilakukan melalui terapi psikologi, salah satunya yang efektif adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini membantu pasien mengubah cara pandang dan cara bersikap terhadap suatu masalah. Dalam kasus fobia, ahli terapi akan membantu pasien mengatasi rasa takut melalui teknik pemaparan atau desentisasi. Dengan teknik pemaparan terhadap benda atau suasana yang ditakuti, rasa takut diharapkan dapat berkurang secara bertahap sehingga pada akhirnya pasien dapat mengendalikn fobia yang dialami. Contohnya, adalah pada pasien yang mengalami fobia terhadap ular. Awalnya, pasien akan diminta untuk membaca tulisan tentang ular, lalu diperlihatkan gambar hewan  tersebut. Tahapan berikutnya adalah dengan mengunjungi kandang ular, yang dilanjutkan dengan memegang reptil tersebut secara langsung.

Kamis, 21 Februari 2019

cerpen



love doesn't arrive
Tari anak MTS kelas 2 MTS sedang menikmati masa-masa pubernya, dia pesantren pulang pergi karena rumahnya dekat dengan pesantren. Setiap kenaikan kelas di pesantren Tari pasti ada yang masuk pesantren, pada saat itu banyak murid dari Bandung yang ingin mesantren di sana.
Pada malam minggu santriwan dan santriwati berkumpul di lapangan mengadakan acara api unggun dan mengenal para santri baru, acara pertama yaitu para santri baru di persilahkan memperkenal kan dirinya masing-masing, setelah santri baru mempersilahkan diri giliran santri lama memperkenal kan dirinya masing-masing.
Lalu acara yang ke dua yaitu penampilan pentas seni yang sebelum acara sudah di bagi kelompok yang di gabung dengan santri baru agar saling mengenal satu sama lain. Setelah itu kita mengadakan games, games nya adalah semuanya bernyanyi lalu korek api di estapetkan, jika lagu berhenti maka korek api pun ikut berhenti juga, dan jika yang mendapat kan korek api tersebut di beri tantangan, ada yang menyanyi di tengah-tengah lapangan, ada yang menyatakan cinta ke santriwati hanya sekedar menghibur dll. Sehingga acara tersebut berkesan, meriah, dan tidak dapat di lupakan.
Setelah acara selesai para santriwan dan santriwati beristirahat. Keesokan harinya pada pukul 19:30 sebagian santriwan dan santriwati berkumpul dan bersundagurau, Tari yang awal nya tidak akan ikut berkumpul tiba-tiba di panggil untuk bergabung dengan mereka, Tari jika bertemu dengan orang yang baru kenal, dia malu-malu, sampai-sampai dia di godain karena dia dari tadi diem aja, muka Tari pun merasa malu banget karena muka dia memerah dan langsung meninggalkan mereka.
Ke esokan harinya Tari berpapasan dengan cowo yang kemarin godain dia, dan nama cowo tersebut adalah Juna, Juna ini anak baru masuk pesanteren kemarin. Tari dan Juna sempat tatap muka kemudian Tari merasakan ada yang berbeda di dirinya, dadanya berdebar-debar dan pipi memerah. Tari langsung meninggal kan Juna agar dia tidak ketahuan dengan sikap anehnya. Setalah Tari sampai di musolah Tari memikirkan apa yang terjadi pada dirinya "Apakah aku suka sama Juna ?" , "Ah tapi rasanya tidak mungkin aku suka sama dia." Tari berkata dalam hati.
Setelah beberapa menit kemudian Tari di kejutkan oleh teman nya sehingga Tari kaget dan teman Tari bertanya " Kenapa melamun terus ?" " mmmm engga melamun ko" jawab Tari. Tari pun melakukan aktivitas di pesantren nya sampai pulang. Dan setelah pulang tari senyum-senyum sendiri dan merasa bahagia karena mengingat kejadian tadi, sampai-sampai ditanya sama mamahnya " Kenapa kamu Tari senyum-senyum sendiri ?" " mmmm engga papa mah....." jawab tari, Tari pun pergi ke kamarnya dan meninggalkan mamah nya di ruang tv.
sesampainya di kamar tersenyum kembali dia merasa bahagia walaupun baru kenal dengan Juna tetapi tari merasa bahagia. Ke esokan harinya Juna dan yang lain nya mulai bersekolah begitu pula dengan Tari, Tari bersekolah di MTS sedangkan Juna bersekolah di MA, Tari tahu bahwa nanti Juna akan melewati sekolahan dia maka dari itu Tari menunggu Juna lewat, Tari menunggu di lantai dua agar tidak terlalu kelihata. Pada saat Juna lewat seketika Tari salah tingkah sampai teman-temanya mulai curiga dengan sikap Tari, teman-temannya melirik kepada Juna lalu melihat Tari dan mulai tersenyum sambil mengejeknya sampai pipinya berubah menjadi merah.
Tari meninggal kan mereka, lalu teman-temannya mengikuti sambil mengejeknya sampai masuk ke kelas, Tari duduk dan pura-pura ngambek pada mereka agar mereka minta maaf dan akhirnya mereka meminta maaf kepada Tari. Dan mereka pun baikan seperti biasa sampai pulang sekolah.
Pada sore harinya Tari biasa pergi ke pesanteren untuk belajar, dan tidak sengaja Tari bertemu dengan Juna awalnya Tari berharap tidak bertemu dengan Juna tetapi mau gimana lagi, Tari hanya menunduk kepala dan melewati Juna. Tari tidak sengaja melewati asrama laki-laki, Riki yang melihat Tari lewat bertanya padanya:
Riki: " Tari kamu saudaranya Sari ?"
Tari: " mmmm emang kenapa ?"
Riki: " Engga papa sih nanya saja."
Tari: " ohhh iya saudara aku."
Riki: " ohhhh"
             Lalu Tari melanjutkan langkah kakinya menuju rumah. Dan ke esokan harinya Juna pun menanyakan tentang sari:
Juna: " Tar benar kamu saudaranya Sari ?"
Tari: " Iya emang kanapa sih, dari kemarin banyak yang nanyain Sari."
Juna: " Engga papa."
           Lalu Juna juna pergi meninggalkan Tari yang kebingungan semua orang bertanya tentang Sari, Tari kesal pada hari itu sampai semua orang sama dia di jutekin bahkan di marahin.


   Tari bingung dengan sikap 2 orang ini " Ada apa ya ?" "Apa jangan-jangan mereka suka sama Sari", kata-kata tersebut berada di fikiran Tari. Dan ternyata apa yang ada di fikiran Tari itu benar, mereka suka pada Sari. Riki satu kelas dengan Sari sedangkan Juna dia adik kelas nya Sari, di sekolah Juna berusaha mendekati Sari denga dekat sama teman-temannya agar tidak ketahuan.
Riki yang suka pula dengan Sari dia merasa kesal dengan Juna tetapi Riki tidak menunjukkan pada Juna bahwa dia sedang cemburu, Riki muak melihat Juna dengan yang lainnya jadi Riki pergi meninggalkan mereka. Jika Juna bertanya kepada Tari tentang Sari, Tari menjawab tetapi dengan hati yabg berat karena Tari juga suka sama Juna.
Pada saat di pesanteren Tari curhat kepada temannya yang bernama Santi, Santi ini adalah teman sekaligus sahabat, Tari curhat tentang dia suka sama Juna tetapi Juna suka sama Sari saodaranya sendiri.
Tari: " Apa yang harus ku lakukan ?"
Santi: " Mmm gimana ya... aku juga bingung harus gimana, ya udah sekarang mah sabar aja."
Tari: " hmmmm iya...."
Santi: " Maaf ya aku tidak bisa membantu."
Tari: " Iya tidak apa-apa."
            Juna semenjak dia masuk pesanteren selalu adzan, ketika dia adzan Tari tersenyum bahagia dan yang lainnya pada rebutan bahwa Juna itu miliknya karena suara adzan Juna merdu, Tari juga ikutan jadi anak-anak semua pada tahu bahwa Tari suka sama Juna, entah Juna mengetahuinya atau tidak tetapi Tari tidak menperdulikan karena dia asik dengan temannya. Setiap ada Juna dan Tari anak-anak mojokin dan membuat pipi Tari merah.
           Ketika ada acara santunan anak yatim di pesanteren Tari, Juna dan anak-anak yang lainnya sedang berkumpul dan bercanda, ketika tidak ada topik lain mereka mulai mojokin Tari sama Juna. Tari sempat bete karena mereka terus-terusan mengkatain dia.
           Setelah acara selesai para santriwan dan santriwati membersihkan halaman pesanteren sampai dzuhur, setelah itu para santriwan dan santriwati bersiap untuk shalat dzuhur. Setelah shalat dzuhur ada yang langsung ke asrama dan ada yang masih di masjid, kebetulan Tari dan Santi masih ada di masjid begitu pula dengan Juna, di sana Tari,Santi, dan Juna ngobrol dan bercanda pula.
          Setelah lama mengobrol dengannya Tari dan Santi pergi ke asrama untuk bergabung dengan yang lainnya, setelah tari sampai di asrama dia beres-beres untuk pulang karena sudah selesai acaranya.
Setelah beberapa bulan Juna mulai menjauh darinya entah mengapa dia menjauh, yang pasti tari sangat sedih, tanpa alasan yang kuat Juna menjauh darinya. Setiap tari ingin menanyakan hal tersebut kepada Juna, Juna selalu ada alasan, setelah beberapa hari Tari mencoba menanyakan hal tersebut di sosmed.
Tari: " Jun mengapa kau akhir-akhir ini menjauh dariku ?, jika aku punya salah sama kamu, aku minta maaf tapi jangan menjauh dariku ?"
Juna: " Menjauh bagaimana? Ak tidak menjauh darimu."
Tari: " Setiap aku pengen ngobrol sama kamu, kamu selalu menghindar."
Juna: " Ohhh iya sudah, aku minta maaf sama kamu."
         Setelah beberapa minggu sikap Juna mulai menbaik seperti biasa. Ternyata sikap Juna berubah kepada Tari karena Juna sedang berpacaran dengan Sari saudara Tari dan Tari mengetahui itu saat mereka sudah putus. Mereka berpacaran 1 bulan yang lalu, Tari sangat kecewa dan marah kepada Sari, karena sebelu mereka pacaran Sari tau bahwa Tari suka sama Juna, itu yang membuat Tari marah pada Sari. Setelah beberapa minggu Tari dan Santi baikan, karena buat apa bertengkar gara-gara cowo.
         Pada saat pesanteren HARLAH (hari lahir) yang ke-16, malamnya sebelum acara di pesanteren mengadakan nobar wayang, Tari duduk di belakang Riki dan Juna, awalnya pada diam tetapi setelah lama-kelamaan Riki membuka pembicaraan mereka bercanda dan pada saat bercanda Tari melihat alumni datang dan reflek semua santriwati menghampiri alumni tersebut, setelah menghampiri Tari kembali ke tempat duduk, ketika Tari ingin duduk di belakang Juna, Juna mengisyaratkan agar duduk di sampingnya. Sejenak hening, Juna membuka pembicaraan dengan meminjam jam tangannya Tari, setelah lama ngobrol Tari di panggil oleh papah nya untuk pulang karena sudah larut malam.
Sebenarnya Tari ingin berlama-lama dengan Juna karena susah mendapat kan momen tersebut tetapi apa boleh buat jika Tari tidak menuruti apa kata ayah nya pasti marah. Tari berpamitan kepada Juna.
Ke esokan harinya saat acara HARLAH Tari tampil di panggung bersama teman-temannya. Setelah acara selesai dan berjalan dengan lancar pada malam harinya semua yg menjadi panitia berenang ke air panas, pada saat di dekat kolam Tari di dorong oleh temannya sehingga dia masuk ke kolam.
Setelah beberapa bulan dan sebentar lagi tari aka lulus, Tari meneruskan sekolahnya di SMA. Tari melewati satu tahunnya dengan senang, sedih, dan campur aduk. Tari naik kelas XI dan juna lulus MA, Tari cemas jika Juna lulus pasti dia akan pulang ke bandung dan tidak kembali lagi terlintas pada fikiran Tari.
Dan lagi-lagi kejadian hal yang Tari fikirkan, setelah lulus Juna pulang ke rumah yang ada di Bandung, Tari tidak mengetahui Juna pulang dia tahu dari temannya yang memberitahunya awalnya tari tidak percaya tetapi setelah lama dia tidak bertemu dengan Juna, Tari mulai percaya. Lalu Tari menanyakan kepada Juna.
Tari: " Jun kamu beneran pulang?"
: " Iya Jubaener."
Tari: " ohhhh"
         Sebulan Tari dan Juna tidak hilang kontak tetapi setelah beberapa bulan Tari kehilanga kontak nya entah bagaimana kabarnya.

         

surat lamaran pekerjaan



Kuningan, 20 Februari 2019
Hal            : Lamaran pekerjaan
Lampiran : 6 (enam) berkas
Yth.
Kedai Ramen Saga
Kuningan Jawa Barat
Dengan Hormat
            Berdasarkan informasi yang saya dapat dari brosur, perusahaan Bapak/Ibu pimpin membuka lowongan pekerjaan. Melalui surat lamaran ini saya mengajukan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin.
            Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
nama                            : Ameliya Lestari
tempat/tanggal lahir : Kuningan, 9 Juli 2001
jenis kelamin               : Perempuan
pendidikan                  : SMAN 1 Cilimus
alamat                          : Ds. manislor
telepon                        : 089660221089
              Untuk melengkapi data yang di perlukan sebagai bahan pertimbangan saya lampirkan sebagai berikut:
1.       Daftar  riwayat hidup
2.       Fotokopi ijazah terakhir
3.       Fotokopi KTP
4.       Fotokopi SKCK
5.       Fotokopi surat keterangan dokter
6.       Pas foto terbaru 3x4
Demikian surat lamaran kerja ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Atas perhatian serta kerja sama dari perusahaan Bapak/Ibu pimpin, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya


Ameliya Lestari